Rabu, 28 November 2007

Cerita di balik kecelakaan


Rama Arya Duta bukan hanya sedih ketika ayahnya meninggal. Ada semacam kecemasan yang tumbuh diam-diam. Ia menghadapi masalah keuangan. Pekerja swasta itu mengaku baru saja "habis-habisan" membayarkan uang sekolah bagi dua anaknya. Kantongnya benar-benar kempes. Ketika ayahnya meninggal itu, tentu ia diperhadapkan pada kenyataan harus menyiapkan sejumlah dana dalam tempo secepatnya. Jalan yang paling mudah adalah menjual perhiasan istrinya . Memang, pada saat pemakaman, datang bantuan dari handai-taulan dan warga, tapi tidaklah mencukupi dan ia masih tetap harus merasa berutang kepada sang istri yang telah merelakan perhiasannya.
Seminggu setelah pemakaman, Ia baru tahu kalau ayahnya ikut program sebuah asuransi. Segera ia melaporkan bahwa sang ayah sudah meninggal kepada pengelola asuransi, Rama diminta datang ke kantor dengan membawa sejumlah surat sebagai persyaratan untuk mengklaim asuransi. Urusan itu berlangsung sampai seminggu, karena menunggu surat keterangan dari RT/RW, kelurahan dan lain sebagainya.
Setelah selesai mengurus ini-itu, Rama mendapatkan uang klaim dari asuransi yang jumlahnya 500 Juta. "Wah.. ini seperti sebuah hadiah buat saya sekeluarga. Bapak seperti meninggalkan warisan yang mengejutkan," katanya. Maka bukan saja perhiasan buat istri yang bisa ia beli lagi, tapi juga masih ada uang berlebih untuk biaya tambahan anak sekolah."Sejak itu saya jadi berpikir, ayahku saja yang jarang sekali berpergian, ikut asuransi kecelakaan malah saya yang sering berpergian, tidak diikutkan.
Sejak saat itu saya langsung ikut menjadi member , “apalagi saya belum bisa memberikan warisan buat keluarga" katanya mantap.

Tidak ada komentar: